Sesosok anak muda dengan rambut ikal gondrong terlihat kerap melewati halaman Fakultas Hukum, Universitas Indonesia di Rawamangun, Jakarta Timur sembari menunggang sepeda motor Suzuki GT 350 cc.

Matanya selalu melirik dan mencari sesosok perempuan yang berkuliah di Fakultas itu. Sedang anak lelaki yang berusia di kisaran 25 – 26 tahun pada 1978 itu kuliah di Jurusan Farmasi dan Apoteker, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Yang dicarinya adalah Zalzulmida Aladin, mahasiswi jelita asal Padang Pariaman. Dia pindahan dari Universitas Andalas, Padang. Usia perempuan yang membuat anak lelaki ini jatuh hati baru 23 tahun kala itu.

Sosok anak muda berdagu belah yang mencari Gadis Minang itu tak lain adalah Longki Djanggola. Ia adalah mahasiswa yang mengikuti tugas belajar di kampus bergengsi ini. Profesinya pegawai negeri sipil Golongan II di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Lebih mirip artis film daripada PNS. Ganteng dan tinggi badan di atas rata-rata. Penampilannya terlihat bengal, tapi selalu rapi.

Saat itu, Longki benar-benar jatuh hati pada perempuan yang senyuman manisnya membuat hilang kebengalannya. Gairah hati membuatnya bertekuklutut di bawah pesona perempuan muda itu.   

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat pembekalan Kuliah Kerja Nyata di Lembang, Jawa Barat, Longki akhirnya bisa berkenalan dekat dengan perempuan yang sudah mengisi setengah hatinya itu.

“Kata Bapak dia sudah kenal saya ketika itu. Tapi belum tahu nama. Ketemu saat pembekalan KKN baru kenalan. Dia juga mau KKN. Saya suka karakternya. Meski terlihat bengal, Bapak itu berkarakter dan simpatik,” aku Zalzulmida menilai Longki.

Singkat kata, mereka ditempatkan di wilayah sama namun beda desa. Zalzulmida ditempatkan di Desa Cilajah, Pandeglang, Banten — yang saat itu masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat, dan Longki ditempatkan di Desa Munjul, Badui Luar, Rangkas, Pandeglang.   

Longki yang selalu datang dengan tunggangan Suzuki GT 350 cc-nya, kerap berkunjung ke lokasi KKN Zalzulmida. Rupanya benih-benih kasih mulai tumbuh di hati Putri Padang ini. Ia pun menerima ungkapan cinta Longki.  

Zalzulmida mengisahkan, saat itu, Camat di mana mereka ditempatkan menyukai seorang mahasiswi. Kepala wilayah kecamatan itu selalu pasang aksi dan mempersulit mereka, mungkin karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

“Bapak pun turun tangan. Ia menyelesaikan masalah itu agar kawan-kawan bisa KKN dengan nyaman. Jadi bapak yang bengal dan juga keras itu, bakat leadershipnya, kepemimpinannya sudah terlihat dari dulu. Dia mampu mengelola masalah dan solutif. Itu yang bikin Ibu jatuh hati. Bapak itu juga teguh hatinya,” ungkap Zalzulmida sembari tersenyum simpul.  

Soal keras dan teguh hati Longki ada kisahnya sendiri.

“Satu waktu, ketika Bapak mau bertamu ke rumah saya, ada tiga orang pemuda yang sama-sama mau ketemu saya. Mereka semua pakai mobil. Ada yang pakai mobil Mercy yang tergolong sangat mewah ketika itu, tapi Bapak dengan santainya parkir sepeda motornya di depan Mercy dan masuk ke rumah,” tutur Zalzulmida sembari tertawa.   

Kembang kisah asmara dua sejoli ini kian mekar bersemi sampai suatu waktu Longki terlibat aksi demonstrasi menuntut agar Pemerintah Pusat menunjuk Putra Daerah sebagai Gubernur Sulteng.

Sebagai aktivis muda, Longki sangat aktif. Mereka menggelar demonstrasi di Palu dan juga di Manado. Di Manado, Sulawesi Utara mereka memasang tenda di halaman Komando Daerah Militer XIII Merdeka. Panglima Kodam Merdeka kala itu adalah Mayor Jenderal Rudini.

Tuntutan mereka jelas; Rakyat Sulawesi Tengah menolak penunjukkan Gubernur oleh Pemerintah Pusat bila masih orang dari luar daerah. Bagi mereka sudah saatnya daerah yang merupakan pemekaran Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo itu dipimpin oleh Putra Daerah.

Sejak saat itu, kuliah Longki keteteran. Sementara masa kuliahnya hampir selesai. Usai KKN, Longki mulai sering bolak-balik Palu – Jakarta.

Zalzulmida pun ambil tindakan. Ia mengirimkan telegram kepada Longki di Palu. Isinya ancaman; “Bila tidak segera pulang menyelesaikan kuliah, maka hubungan cinta mereka berakhir sampai di sini.”

Longki pun gelagapan. Ia segera kembali ke Kampus. Almanak menunjuk tahun 1982. Sekembalinya ke Kampus, Longki segera mengurusi ujian untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi. Ia menghadap Dekan dan Ketua Jurusannya, Ratna Binol asal Buol, Sulawesi Tengah dan dosen pembimbingnya Subagyo.  

“Alhamdulillah pada 1983 saya dapat menyelesaikan pendidikan spesialisasi apoteker dari Universitas Indonesia dan kemudian menjadi Kepala Perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah,” kisah Longki.

Longki dan Zalzulmida menikah pada 28 Februari 1982.

“Sebenarnya tak lama setelah menikah dan selesai kuliah, Bapak maunya pulang ke Palu. Ia mau mengabdi di daerahnya. Padahal menurut Ibu, Bapak itu bisa berkiprah di tingkat nasional. Apalagi Ibu saat itu sudah menduduki jabatan struktural di Departemen Transmigrasi. Ibu jadi Kepala Seksi Permukiman sekaligus Ajun Peneliti Madya,” tutur Zalzulmida.

Ternyata kepulangan Longki urung terlaksana. Ia diangkat menjadi Kepala Perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Jakarta hingga 1989.

Ia baru benar-benar bisa kembali kala diserahi tanggungjawab menjadi Kepala Bagian Tata Usaha pada Dinas Kesehatan Sulteng pada 1989.

Langkah awal Longki muda menjadi Pegawai Negeri Sipil Golongan II itu akhirnya mengantarkan dia ke puncak karir. Pada Juni 2021 masa baktinya sebagai Gubernur Sulteng berakhir. Buah manis perjuangan sudah dikecapnya. Gadis Minang yang mengirimkannya telegram putus cinta itu pun setia mendampingi hingga kini. ***   

Comments to: Telegram Cinta Gadis Minang

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

Login

Welcome to Typer

Brief and amiable onboarding is the first thing a new user sees in the theme.
Join Typer
Registration is closed.